1. Mengapa kita melakukan Penelitian ?
Penelitian
dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu manusia
terhadap suatu kejadian atau gejala alam tertentu.
2. Jelaskan 3 aliran Filsafat Penelitian ?
1. PRAPOSITIVISME
Filsafat
ini berpandangan bahwa realitas itu berkembang secara alamiah. Peneliti
mengamatinya sebagai pengamat yang pasif, artinya tidak dengan sengaja
memanipulasi lingkungan dan tidak malakukan eksperimen dengan lingkungan.
Aliran ini menghasilkan penelitian deskriptif kualitatatif.
2. POSITIVISME
Positivisme,
sebagai salah satu aliran filsafat yang bebas nilai dikembangkan mulai abad ke
19.
1.
Positivisme sosial; Tokohnya Henry Sain Simon
dan Auguste Comte. Paham ini meyakini bahwa kehidupan sosial hanya dapat di
capai melalui penerapan ilmu-ilmu positif. Tokoh lainnya yaitu; John Stuart
Mill, Gioseppe Ferrari, dll.
2.
Positivisme evolusioner; Tokohnya Charles Lyell,
Charles Darwin, Herbert Spencer, Wilhem Wundt, Ernst Hackel. Jika positivisme
sosial percaya kemajuan dapat berlangsung berdasarkan ilmu pengetahuan, sedang
positivisme evolusioner meyakini interaksi manusia-semesta sebagai penentu
kemajuan.
3.
Positivisme logis; tokohnya Rudolph Carnapp,
Alfred Ayer, Wittgenstein, dll. Paham ini lebih memfokuskan diri pada logika
dan bahasa ilmiah. Prinsip yang diyakini paham ini adalah ISOMORFI yaitu adanya
hubungan mutlak antara bahasa dan dunia nyata.
Dalam hal ini, positivisme menyebutkan, hanya ada dua jalan
untuk mengetahui:
1.
Verifikasi langsung melalui data pengindera
(empirikal).
2.
Penemuan lewat logika (rasional).
Positivisme mempunyai slogan yang terkenal yaitu "savoir
pour prevoir, prevoir pour pouvoir" yang artinya dari ilmu muncul
prediksi, dan dari prediksi muncul aksi.
Komponen-komponen pokok teori dan metodologi positivis
adalah sebagai berikut:
·
Metode penelitian: kuantitatif
·
Sifat metode positivisme adalah obyektif.
·
Penalaran: deduktif.
·
Hipotetik
2. POST POSITIVSME
Munculnya
gugatan terhadap positivisme di mulai tahun 1970-1980an. Pemikirannya
dinamai “post-positivisme”. Tokohnya; Karl R. Popper, Thomas Kuhn, para
filsuf mazhab Frankfurt (Feyerabend, Richard Rotry). Paham ini menentang
positivisme, alasannya tidak mungkin menyamaratakan ilmu-ilmu tentang manusia
dengan ilmu alam, karena tindakan manusia tidak bisa di prediksi dengan satu
penjelasan yang mutlak pasti, sebab manusia selalu berubah.
Asumsi Dasar Post-Positivsme
1.
Fakta tidak bebas nilai, melainkan bermuatan
teori.Falibilitas Teori, tidak satupun teori yang dapat sepenuhnya dijelaskan
dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk
menunjukkan fakta anomali.
2.
Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai. Interaksi
antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukanlah reportase
objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan
persoalan dan senantiasa berubah.
3.
Asumsi dasar post-positivisme tentang realitas
adalah jamak individual. Hal itu berarti bahwa realitas (perilaku manusia)
tidak tunggal melainkan hanya bisa menjelaskan dirinya sendiri menurut unit
tindakan yang bersangkutan.
4.
Fokus kajian post-positivis adalah
tindakan-tindakan (actions) manusia sebagai ekspresi dari sebuah
keputusan.
Komponen-komponen pokok teori dan metodologi post-positivis
adalah sebagai berikut:
·
Metode penelitian: kualitatif
·
Sifat metode post-positive: Subyektif
·
Penalaran: Induktif.
·
Interpretatif
3. Apa hakekat Penelitian itu ?
Pencarian
jawaban dari pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya oleh peneliti. Selanjutnya hasil penelitian akan berupa jawaban atas
pertanyaan yang diajukan pada saat dimulainya penelitian. Untuk menghasilkan
jawaban tersebut dilakukan pengumpulan, pengolahan dan analisis data dengan
menggunakan metode tertentu
4. Pengertian Metode Penelitian ?
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh
pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai
suatu cara atau metode.
5. Apa yg dimaksud dengan Cara Ilmiah ?
1.
Rasional, bahwa kegiatan penelitian itu
dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran
manusia.
2.
Empiris, bahwa cara-cara yang dilakukan dalam
penelitian itu dapat diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat
mengamati dan mengetahui cara-cara yang digunkan.
3.
Sistematis, bahwa proses yang digunakan dalam
penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis.
Sehingga dapat dikatakan bahwa penelitian tersebut ilmiah.
6. Jelaskan pengertian Data ?
Berdasarkan
sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis yaitu data
primer dan data sekunder.
1.
Data primer adalah data yang
diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya.
Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki
sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus
mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data primer antara lain observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus
grup discussion – FGD) dan penyebaran kuesioner.
2.
Data Sekunder adalah data yang
diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada
(peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai
sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal, dan
lain-lain.
Berdasarkan
bentuk dan sifatnya, data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data
kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang
berbentuk angka). Data kuantitatif dapat dikelompokkan berdasarkan cara
mendapatkannya yaitu data diskrit dan data kontinum. Berdasarkan sifatnya, data
kuantitatif terdiri atas data nominal, data ordinal, data interval dan data
rasio.
1. Data Kualitatif
Data
kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka. Data
kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya
wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah
dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif
adalah gambar yang diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video.
2. Data Kuantitatif
Data
kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan
bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik
perhitungan matematika atau statistika.
Berdasarkan
proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan
dalam dua bentuk yaitu sebagai berikut:
a.
Data diskrit adalah data dalam
bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan cara membilang. Contoh data
diskrit misalnya: Jumlah Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan XXX sebanyak 20. Jumlah
siswa laki-laki di SD YYY sebanyak 67 orang. Jumlah penduduk di Kabupaten ZZZ
sebanyak 246.867 orang. Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit
akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan pecahan).
b.
Data kontinum adalah data dalam
bentuk angka/bilangan yang diperoleh berdasarkan hasil pengukuran. Data
kontinum dapat berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala
pengukuran yang digunakan. Contoh data kontinum misalnya: Tinggi badan Budi
adalah 150,5 centimeter. IQ Budi adalah 120. Suhu udara di ruang kelas 24o Celcius.
Berdasarkan
tipe skala pengukuran yang digunakan, data kuantitatif dapat dikelompokan dalam
empat jenis (tingkatan) yang memiliki sifat berbeda yaitu:
1.
Data nominal atau sering disebut
juga data kategori yaitu data yang diperoleh melalui pengelompokkan obyek
berdasarkan kategori tertentu. Perbedaan kategori obyek hanya menunjukan
perbedaan kualitatif. Walaupun data nominal dapat dinyatakan dalam bentuk
angka, namun angka tersebut tidak memiliki urutan atau makna matematis sehingga
tidak dapat dibandingkan. Logika perbandingan “>” dan “<” tidak dapat
digunakan untuk menganalisis data nominal. Operasi matematika seperti
penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), atau pembagian (:) juga tidak
dapat diterapkan dalam analisis data nominal. Contoh data nominal antara lain:
Jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu:
·
Laki-laki
·
Perempuan
Angka (1) untuk
laki-laki dan angka (2) untuk perempuan hanya merupakan simbol yang digunakan
untuk membedakan dua kategori jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak
memiliki makna kuantitatif, artinya angka (2) pada data di atas tidak berarti
lebih besar dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki makna lebih besar
dari perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat dilakukan
operasi matematika (+, -, x, : ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan,
maka (1) + (2) ≠ (3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil
penjumlahan (1) dan (2).
Status
pernikahan yang terdiri dari tiga kategori yaitu: (1) Belum menikah, (2)
Menikah, (3) Janda/ Duda. Data tersebut memiliki sifat-sifat yang sama dengan
data tentang jenis kelamin.
2.
Data ordinal adalah data yang
berasal dari suatu objek atau kategori yang telah disusun secara berjenjang
menurut besarnya. Setiap data ordinal memiliki tingkatan tertentu yang dapat
diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya. Namun
demikian, jarak atau rentang antar jenjang yang tidak harus sama. Dibandingkan
dengan data nominal, data ordinal memiliki sifat berbeda dalam hal urutan.
Terhadap data ordinal berlaku perbandingan dengan menggunakan fungsi pembeda
yaitu “>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun dalam suatu
urutan, namun belum dapat dilakukan operasi matematika ( +, – , x , : ). Contoh
jenis data ordinal antara lain. Tingkat pendidikan yang disusun dalam urutan
sebagai berikut:
·
Taman Kanak-kanak (TK)
·
Sekolah Dasar (SD)
·
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
·
Sekolah Menengah Atas (SMA)
·
Diploma
·
Sarjana
Analisis terhadap urutan
data di atas menunjukkan bahwa SD memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan
dengan TK dan lebih rendah dibandingkan dengan SMP. Namun demikian, data
tersebut tidak dapat dijumlahkan, misalnya SD (2) + SMP (3) ≠ (5) Diploma.
Dalam hal ini, operasi matematika ( + , – , x, : ) tidak berlaku untuk
data ordinal.
Peringkat
(ranking) siswa dalam satu kelas yang menunjukkan urutan prestasi belajar
tertinggi sampai terendah. Siswa pada peringkat (1) memiliki prestasi belajar
lebih tinggi dari pada siswa peringkat (2).
3.
Data Interval adalah data hasil
pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukan
semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal. Kelebihan sifat data interval
dibandingkan dengan data ordinal adalah memiliki sifat kesamaan jarak (equality
interval) atau memiliki rentang yang sama antara data yang telah diurutkan.
Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat dilakukan operasi
matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun demikian masih terdapat
satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka Nol mutlak pada data
interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:
a.
Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan
termometer yang dinyatakan dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius
sampai 10 Celcius memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius
sampai 20 Celcius. Oleh karena itu berlaku operasi
matematik ( +, – ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius
= 300 Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa
benda yang bersuhu 150 Celcius memiliki ukuran panas separuhnya
dari benda yang bersuhu 300 Celcius. Demikian juga, tidak dapat
dikatakan bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak memiliki
suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif
(tidak mutlak). Artinya, jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit
diperoleh 00 Celcius = 320 Fahrenheit.
b.
Kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam
IQ. Rentang IQ 100 sampai 110 memiliki jarak yang sama dengan 110
sampai 120. Namun demikian tidak dapat dinyatakan orang yang memiliki IQ 150
tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari urang yang memiliki IQ 100.
c.
Didasari oleh asumsi yang kuat, skor tes
prestasi belajar (misalnya IPK mahasiswa dan hasil ujian siswa) dapat dikatakan
sebagai data interval.
d.
Dalam banyak kegiatan penelitian, data skor yang
diperoleh melalui kuesioner (misalnya skala sikap atau intensitas perilaku)
sering dinyatakan sebagai data interval setelah alternatif jawabannya diberi
skor yang ekuivalen (setara) dengan skala interval, misalnya:
·
Skor (5) untuk jawaban “Sangat Setuju”
·
Skor (4) untuk jawaban “Setuju”
·
Skor (3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”
·
Skor (2) untuk jawaban “Tidak Setuju”
·
Skor (1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”
·
Dalam pengolahannya, skor jawaban kuesioner
diasumsikan memiliki sifat-sifat yang sama dengan data interval.
4.
Data rasio adalah data yang
menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh data nominal, data ordinal, serta
data interval. Data rasio adalah data yang berbentuk angka dalam arti yang
sesungguhnya karena dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak) sehingga dapat
diterapkannya semua bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ). Sifat-sifat yang
membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya (nominal, ordinal, dan
interval) dapat dilihat dengan memperhatikan contoh berikut:
Panjang suatu benda yang
dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda yang panjangnya 1 meter
berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2 meter sehingga dapat dibuat
kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter (sifat data nominal). Ukuran
panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang terpanjang sampai yang terpendek
(sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang panjangnya 1 meter dengan 2
meter memiliki jarak yang sama dengan perbedaan antara benda yang panjangnya 2
meter dengan 3 (sifat data interval). Kelebihan sifat yang dimiliki data rasio
ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1) Angka 0 meter menunjukkan nilai mutlak yang
artinya tidak ada benda yang diukur; serta (2) Benda yang panjangnya 2 meter, 2
kali lebih panjang dibandingkan dengan benda yang panjangnya 1 meter yang
menunjukkan berlakunya semua operasi matematik. Kedua hal tersebut tidak
berlaku untuk jenis data nominal, data ordinal, ataupun data intervalData hasil
pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki semua
sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda secara
nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat diurutkan mulai
dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya
1 kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara
benda yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada benda
(berat) yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg., 2 kali lebih berat dibandingkan
dengan benda yang beratnya 1 kg.
Pemahaman peneliti terhadap jenis-jenis data
penelitian tersebut di atas bermanfaat untuk menentukan teknik analisis data
yang akan digunakan. Terdapat sejumlah teknik analisis data yang harus dipilih
oleh peneliti berdasarkan jenis datanya. Teknik analisis data kualitatif akan
berbeda dengan teknik analisis data kuantitatif. Karena memiliki sifat yang
berbeda, maka teknik analisis data nominal akan berbeda dengan teknik analisis
data ordinal, data interval, dan data rasio.
7. Jelaskan Tujuan Penelitian ?
Tujuan penelitian adalah suatu indikasi
kerah mana, atau data (informasi) apa yang akan dicapai melalui penelitian itu.
Tujuan penelitian dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang konkret
dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable). Misal :
1.
Memperoleh
informasi (data) tentang jumlah pemeriksaan ibu-ibu hamil di kecamatan “X”
selama kehamilan.
2.
Memperoleh
informasi tentang hubungan antara frekuensi pemeriksaan kehamilan dengan BBLR
Tujuan
penelitian dapat dibagi menjadi :
a. Tujuan umum
Tujuan umum
merupakan tujuan penelitian secara keseluruhan yang ingin dicapai melalui
penelitian.
b. Tujuan khusus
Tujuan
khusus merupakan penjabaran atau pentahapan tujuan umum, sifatnya lebih
operasional dan spesifik. Bila semua tujuan khusus tercapai, maka tujuan umum
penelitian juga terpenuhi. Kata-kata operasional dalam tujuan khusus adalah :
mengukur, mengidentifikasi, menganalisa, membandingkan, menilai, mengetahui,
dll.
8. Jelaskan Kegunaan/manfat Penelitian ?
Manfaat
atau Kegunaan hasil penelitian dapat diklasifikasikan menjadi manfaat teoritis
dan manfaat praktis. Manfaat teoritis artinya hasil penelitian bermanfaat untuk
pengembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan obyek penelitian. Manfaat
praktis bermanfaat bagi berbagai pihak yang memerlukannya untuk memperbaiki
kinerja, terutama bagi sekolah, guru, dan siswa serta seseorang untuk melakukan
penelitian lebih lanjut.
9. Jelaskan perbedaan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif dr aspek: Desain,
Tujuan, Metode, Instrumen, Data, Sampel/Sumber Data, analisis, hub dng
responden dan usulan penel ?
1.
Dari segi perspektifnya penelitian kuantitatif
lebih menggunakan pendekatan etik, dalam arti bahwa peneliti mengumpulkan data
dengan menetapkan terlebih dahulu konsep sebagai variabel-variabel yang berhubungan
yang berasal dari teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti. Kemudian
variabel tersebut dicari dan ditetapkan indikator-indikatornya. Hanya dari
indikator yang telah ditetapkan tersebut dibuat kuesioner, pilihan jawaban dan
skor-skornya. Sebaliknya penelitian kualitaif lebih menggunakan persepektif
emik. Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para
informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan
informan.
2.
Dari segi konsep atau teori, penelitian
kuantitatif bertolak dari konsep (variabel) yang terdapat dalam teori yang
dipilih oleh peneliti kemudian dicari datanya, melalui kuesioner untuk
pengukuran variabel-variabelnya. Di sisi lain penelitian kualitatif berangkat
dari penggalian data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau
asli mereka, kemudian para responden bersama peneliti meberi penafsiran
sehingga menciptakan konsep sebagai temuan. Secara sederhana penelitian
kuantitatif berangkat dari konsep, teori atau menguji (retest) teori, sedangkan
kualitatif mengembangkan ,menciptakan, menemukan konsep atau teori.
3.
Dari segi hipotesis, penelitian kuantitatif
merumuskan hipotesis sejak awal, yang berasal dari teori relevan yang telah
dipilih, sedang penelitian kualitatif bisa menggunakan hipotesis dan bisa tanpa
hipotesis. Jika ada maka hipotesis bisa ditemukan di tengah penggalian data,
kemudian “dibuktikan” melalui pengumpulan data yang lebih mendalam lagi.
4.
Dari segi teknik pengumpulan data, penelitian
kuantitatif mengutamakan penggunaan kuisioner, sedang penelitaian kualitatif
mengutamakan penggunaan wawancara dan observasi.
5.
Dari segi permasalahan atau tujuan penelitian,
penelitian kuantitatif menanyakan atau ingin mengetahui tingkat pengaruh,
keeretan korelasi atau asosiasi antar variabel, atau kadar satu variabel dengan
cara pengukuran, sedangkan penelitian kualitatif menanyakan atau ingin
mengetahui tentang makna (berupa konsep) yang ada di balik cerita detail para
responden dan latar sosial yang diteliti.
6.
Dari segi teknik memperoleh jumlah (size)
responden (sample) pendekatan kuantitatif ukuran (besar, jumlah) sampelnya
bersifat representatif (perwakilan) dan diperoleh dengan menggunakan rumus,
persentase atau tabel-populasi-sampel serta telah ditentukan sebelum
pengumpulan data. Penelitian kualitatif jumlah respondennya diketahui ketika
pengumpulan data mengalami kejenuhan. Pengumpulan datanya diawali dari
mewawancarai informan-awal atau informan-kunci dan berhenti sampai pada
responden yang kesekian sebagai sumber yang sudah tidak memberikan informasi
baru lagi. Maksudnya berhenti sampai pada informan yang kesekian ketika
informasinya sudah “tidak berkualitas lagi” melalui teknik bola salju
(snow-ball), sebab informasi yang diberikan sama atau tidak bervariasi lagi
dengan para informan sebelumnya. Jadi penelitian kualitatif jumlah responden
atau informannya didasarkan pada suatu proses pencapaian kualitas informasi.
7.
Dari segi alur pikir penarikan kesimpulan
penelitian kuantitatif berproses secara deduktif, yakni dari penetapan variabel
(konsep), kemudian pengumpulan data dan menyimpulkan. Di sisi lain, penelitian
kualitatif berproses secara induktif, yakni prosesnya diawali dari upaya
memperoleh data yang detail (riwayat hidup responden, life story, life sycle,
berkenaan dengan topik atau masalah penelitian), tanpa evaluasi dan
interpretasi, kemudian dikategori, diabstraksi serta dicari tema, konsep atau
teori sebagai temuan.
8.
Dari bentuk sajian data, penelitian kuantitatif
berupa angka atau tabel, sedang penelitian kualitatif datanya disajikan dalam
bentuk cerita detail sesuai bahasa dan pandangan responden.
9.
Dari segi definisi operasional, penelitian
kuantitatif menggunakannya, sedangkan penelitian kualitatif tidak perlu
menggunakan, karena tidak akan mengukur variabel (definisi operasional adalah
petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur). Jika penelitian kualitatif
menggunakan definisi operasional, berarti penelitian telah menggunakan
perspektif etik bukanemik lagi. Dengan menetapkan definisi operasional, berarti
peneliti telah menetapkan jenis dan jumlah indikator, yang berarti telah
membatasi subjek penelitian mengemukakan pendapat, pengalaman atau pandangan
mereka.
10. (Dari
segi) analisis data penelitian kuantitatif dilakukan di akhir pengumpulan data
dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis
datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan
cara “mengangsur atau menabung” informasi, mereduksi, mengelompokkan dan
seterusnya sampai terakhir memberi interpretasi.
11. Dari
segi instrumen, penelitian kualitatif memiliki instrumen berupa peneliti itu
sendiri. Karena peneliti sebagai manusia dapat beradaptasi dengan para
responden dan aktivitas mereka. Yang demikian sangat diperlukan agar responden
sebagai sumber data menjadi lebih terbuka dalam memberikan informasi. Di sisi
lain, pendekatan kuantitatif instrumennya adalah angket atau kuesioner.
12. Dari
segi kesimpulan, penelitian kualitatif interpretasi data oleh peneliti melalui
pengecekan dan kesepakatan dengan subjek penelitian, sebab merekalah yang yang
lebih tepat untuk memberikan penjelasan terhadap data atau informasi yang telah
diungkapkan. Peneliti memberikan penjelasan terhadap interpretasi yang dibuat,
mengapa konsep tertentu dipilih. Bisa saja konsep tersebut merupakan istilah
atau kata yang sering digunakan oleh para responden. Di sisi lain, penelitian
kuantitatif “sepenuhnya” dilakukan oleh peneliti, berdasarkan hasil perhitungan
atau analisis statisti
SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar