Nama Saya Arsa Winata, Saya Kelahiran
Subang Jawa Barat. Ini adalah cerita pengabdian saya menjadi seorang Guru di
Pulau Timor tepatnya di Desa Kauniki Kec. Takari Kab. Kupang Prov. Nusa
Tenggara Timur. Saya mengikuti program Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) yaitu
Program SM-3T (Serjana Mendidik Daerah Terdepan, Tertingal, Terluar) dan saya
di temapatkan di kab.Kupang dari targetan penempatan seluruh Indonesia untuk
daerah tertinggal. Saya sudah melaksanakan tugas ini tiga bulan di Pulau Timor
dari jangka waktu kontrak selama satu tahun, walaupun baru tiga bulan saya
sudah merasakan getaran indahnya Indonesia dan pengalaman yang sangat berharga,
menjadikan pengalaman ini bisa saya ambil hikmahnya.Benar kata Shu Hok Gie (1942-1968)
“ Mencintai Tanah Air Indonesia dapat di tumbuhkan dengan mengenal masyarakat
Indonesia dari dekat”. Di pulau ini saya semakin menyadari beranekaragam
Indonnesia dengan suku dan budayanya menjadikan Indonesia ini semakin indah, sumber
daya alam yang melimpah seperti emas, mangan, marmer, tapi yang patut
disayangkan karena tidak adanya sumber daya manusia yang mampu mengelola
kekayaan alam ini.tapi mudah-mudahan ini akan menjadi menjadi warisan bagi anak
cucu kita agar bisa menikmati sumber daya alam ini. Dengan mempersiapkam mereka
sebagai sumber daya manusia yang unggul pada masa yang akan datang.
![]() |
| Bukit Kauniki |
Di sini saya mengajar di sebuah
sekolah menengah pertama (SMP) di dekat sebuah gunung batu Kauniki yang menjadi
kebanggan masyarakat Desa Kauniki mereka sangat mensakralkan gunung batu ini,
karena mereka meyakini bahwa dengan gunung ini mereka bisa meminta turunnya
hujan dan masih digunakan sebagai tempat pemujaan, desa ini juga pernah menjadi
saksi bisu pejuang Indonesia karena dahulunya desa ini merupakan sebuah
kerajaan Timor dengan raja yang terkenal pada saat itu adalah Raja Sonbai yang
begitu gigih memerangi penjajah untuk memerdekakan Indonesia. Namun hal ini
berbanding terbalik dengan keadaan masyarakatnya.yang pada saat ini kurang
begitu memperhatikan pendidikan. Orang tua lebih mengarahkan anak-anaknya
menjadi penggembala sapi dan berkebun jagung. Banyak diantara murid-murid pada
saat musim tanam jagung ataupun pada saat musim panen tidak masuk karena harus
membantu kedua orang tuanya di kebun, yang menjadi kendala juga letak sekolah
yang sangat jauh menyebabkan mereka harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke sekolah
dan harus melewati sungai yang pada musim hujan akan banjir dan gunung yang
cukup tinggi dan sulit dilewati.
Saya mengajar Matematika Kelas VIII yang
jumlah muridnya sebanyak 20 orang dari jumlah murid keseluruhan di sekolah itu
sebanyak 47 orang yang terdiri dari 20 orang kelas VII, 20 orang kelas VIII dan
7 orang kelas IX. Untuk kelas IX mereka harus bergabung dengan sekolah lain
karena mereka tidak memenuhi satu rombongan belajar untuk melaksanakan Ujian
Nasional. Hal ini diperparah dengan tidak adanya Kepala Sekolah ataupun guru
PNS yang bertugas di sekolah itu. Walaupun sekolah itu sudah negeri, yang ada
di sini hanya lima orang Guru Honorer Komite yang dibayar seadanya. Sudah 4 tahun
mereka mempertahankan sekolah ini dengan gaji dibayar seadanya.
Hal yang paling menarik ketika kita
menjadi seorang guru, pada saat kita merasakan dekat dengan murid kita sendiri
di sana kita menemukan ketenangan dan pancaran wajah murid-murid yang haus akan
ilmu. Setiap tatap matanya menyimpan harapan yang besar. Saya menyadari bahwa
merekalah yang akan menjadi aktor sejarah Indonesia yang akan mengantarkan
Indonesia ke puncak kemakmuran. Hal ini yang membuat saya bangga dengan profesi
saya sendiri yaitu menjadi seorang guru yang bisa mengantarkan putra-putri
terbaik Indonesia meraih impiannya di masa yang akan datang.
Namun untuk membawa putra-putri
terbaik Indonesia untuk meraih impian mereka tidak semudah membalikan telapak
tangan, begitu pun yang saya alami di sini tapi semakin permasalahan itu silih
berganti. saya semakin siap untuk menghadapinya. Salah satu Contoh ketika saya
mengajar materi lingkaran kepada mereka. Permasalahanya adalah masalah Bahasa,
Bahasa Indonesia mereka kurang lancer jadi saya harus pelan dalam berbicara
supaya mereka mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Saya pernah mencoba
mengajarkan mereka dengan menggunakan media pembelajaran yang benda digunakan
dalam media ini mudah di temukan di manapun dalam kehidupan mereka. alhasil
mereka semakin pusing dan tidak mengerti tentang materi ini. Hal ini membuat
saya semakin berpikir cara apa yang harus gunakan dalam mengajar. Sempat saya
bertanya kepada orang tua, tokoh masyarakat dan guru yang lainya, mereka
memberikan saran bahwa murid-murid disini harus di beri pukulan atau kekerasa
terlebih dahulu baru mereka akan mengerti tentang apa yang kita samapaikan,
karena kalau tidak keras mereka akan berani pada guru. ini sangat membuat saya
harus berpikir lagi karena selama ini saya berkeyakinan bahwa dalam proses
pendidikan tidak ada yang namanya kekerasan ataupun mengajar dengan kontak
fisik, pikiran saya adalah bukan untuk menyuruh anak untuk belajar tapi
bagaimana caranya anak supaya mau belajar.
Hari-hari pun berlalu permasalah ini
saya serahkan pada waktu biarlah waktu yang menjawab masalah semua ini dan akhirnya
permasalahan ini terjawab dengan sendirinya ketika banyak murid yang terlambat hampir
setiap hari dan saya melihat banyak buku yang disimpan di meja tempat duduk
mereka, akhirnya saya menanyakan kepada mereka, jawab mereka adalah mereka
kesekolah sangat jauh mereka berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi dan samapai
di sekolah jam 8 pagi mereka harus berjalan 3 jam untuk bersekolah, suatu
perjungan yang sangat sulit untuk anak seusia mereka, tanpa ada alat transportasi
mereka hanya berjalan kaki melewati gunung-gunung dan sungai yang apabila pada
musim hujan akan banjir, hal ini juga yang menyebabkan mereka tidak mau membawa
pulang buku-buku mereka karena alasan kalau dibawa pulang maka buku mereka akan
rusak, dan masalah ini pun berlanjut ketika mereka setelah pulang sekolah harus
membantu kedua orang tuanya di kebun sampai petang pun tiba, sehingga pada
malam hari mereka sangat kecapean dan langsung istirahat tanpa belajar terlebih
dahulu. Saya kira inilah jawaban yang saya dapatkan ternyata anak Timor itu
tidak lemah dalam hal daya tangkap. Hanya saja mereka kurang beruntung, karena
waktu mereka untuk belajar hampir tidak ada bahkan media pendukung pembelajaran
seperti buku, internet bahkan lisrik untuk penerangan mereka belajar pada malam
hari pun tidak ada, inilah jawaban yang saya dapatkan mengenai anak-anak di
Pulau Timor demikian cerita saya di bawah Batu Kauniki.
STOP KEKERASAN PADA ANAK….!!!!!!
BIARKAN MEREKA MENURUNKAN KASIH SAYANG
PADA GENERASI YANG AKAN DATANG.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar