Kamis, 09 Oktober 2014

PENGABDIANKU DI BUKIT KAUNIKI

Nama Saya Arsa Winata, Saya Kelahiran Subang Jawa Barat. Ini adalah cerita pengabdian saya menjadi seorang Guru di Pulau Timor tepatnya di Desa Kauniki Kec. Takari Kab. Kupang Prov. Nusa Tenggara Timur. Saya mengikuti program Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI) yaitu Program SM-3T (Serjana Mendidik Daerah Terdepan, Tertingal, Terluar) dan saya di temapatkan di kab.Kupang dari targetan penempatan seluruh Indonesia untuk daerah tertinggal. Saya sudah melaksanakan tugas ini tiga bulan di Pulau Timor dari jangka waktu kontrak selama satu tahun, walaupun baru tiga bulan saya sudah merasakan getaran indahnya Indonesia dan pengalaman yang sangat berharga, menjadikan pengalaman ini bisa saya ambil hikmahnya.Benar kata Shu Hok Gie (1942-1968) “ Mencintai Tanah Air Indonesia dapat di tumbuhkan dengan mengenal masyarakat Indonesia dari dekat”. Di pulau ini saya semakin menyadari beranekaragam Indonnesia dengan suku dan budayanya menjadikan Indonesia ini semakin indah, sumber daya alam yang melimpah seperti emas, mangan, marmer, tapi yang patut disayangkan karena tidak adanya sumber daya manusia yang mampu mengelola kekayaan alam ini.tapi mudah-mudahan ini akan menjadi menjadi warisan bagi anak cucu kita agar bisa menikmati sumber daya alam ini. Dengan mempersiapkam mereka sebagai sumber daya manusia yang unggul pada masa yang akan datang.


 
Bukit Kauniki

Di sini saya mengajar di sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di dekat sebuah gunung batu Kauniki yang menjadi kebanggan masyarakat Desa Kauniki mereka sangat mensakralkan gunung batu ini, karena mereka meyakini bahwa dengan gunung ini mereka bisa meminta turunnya hujan dan masih digunakan sebagai tempat pemujaan, desa ini juga pernah menjadi saksi bisu pejuang Indonesia karena dahulunya desa ini merupakan sebuah kerajaan Timor dengan raja yang terkenal pada saat itu adalah Raja Sonbai yang begitu gigih memerangi penjajah untuk memerdekakan Indonesia. Namun hal ini berbanding terbalik dengan keadaan masyarakatnya.yang pada saat ini kurang begitu memperhatikan pendidikan. Orang tua lebih mengarahkan anak-anaknya menjadi penggembala sapi dan berkebun jagung. Banyak diantara murid-murid pada saat musim tanam jagung ataupun pada saat musim panen tidak masuk karena harus membantu kedua orang tuanya di kebun, yang menjadi kendala juga letak sekolah yang sangat jauh menyebabkan mereka harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke sekolah dan harus melewati sungai yang pada musim hujan akan banjir dan gunung yang cukup tinggi dan sulit dilewati.
Saya mengajar Matematika Kelas VIII yang jumlah muridnya sebanyak 20 orang dari jumlah murid keseluruhan di sekolah itu sebanyak 47 orang yang terdiri dari 20 orang kelas VII, 20 orang kelas VIII dan 7 orang kelas IX. Untuk kelas IX mereka harus bergabung dengan sekolah lain karena mereka tidak memenuhi satu rombongan belajar untuk melaksanakan Ujian Nasional. Hal ini diperparah dengan tidak adanya Kepala Sekolah ataupun guru PNS yang bertugas di sekolah itu. Walaupun sekolah itu sudah negeri, yang ada di sini hanya lima orang Guru Honorer Komite yang dibayar seadanya. Sudah 4 tahun mereka mempertahankan sekolah ini dengan gaji dibayar seadanya.
 
Muridku
Hal yang paling menarik ketika kita menjadi seorang guru, pada saat kita merasakan dekat dengan murid kita sendiri di sana kita menemukan ketenangan dan pancaran wajah murid-murid yang haus akan ilmu. Setiap tatap matanya menyimpan harapan yang besar. Saya menyadari bahwa merekalah yang akan menjadi aktor sejarah Indonesia yang akan mengantarkan Indonesia ke puncak kemakmuran. Hal ini yang membuat saya bangga dengan profesi saya sendiri yaitu menjadi seorang guru yang bisa mengantarkan putra-putri terbaik Indonesia meraih impiannya di masa yang akan datang.
Namun untuk membawa putra-putri terbaik Indonesia untuk meraih impian mereka tidak semudah membalikan telapak tangan, begitu pun yang saya alami di sini tapi semakin permasalahan itu silih berganti. saya semakin siap untuk menghadapinya. Salah satu Contoh ketika saya mengajar materi lingkaran kepada mereka. Permasalahanya adalah masalah Bahasa, Bahasa Indonesia mereka kurang lancer jadi saya harus pelan dalam berbicara supaya mereka mengerti dengan apa yang saya sampaikan. Saya pernah mencoba mengajarkan mereka dengan menggunakan media pembelajaran yang benda digunakan dalam media ini mudah di temukan di manapun dalam kehidupan mereka. alhasil mereka semakin pusing dan tidak mengerti tentang materi ini. Hal ini membuat saya semakin berpikir cara apa yang harus gunakan dalam mengajar. Sempat saya bertanya kepada orang tua, tokoh masyarakat dan guru yang lainya, mereka memberikan saran bahwa murid-murid disini harus di beri pukulan atau kekerasa terlebih dahulu baru mereka akan mengerti tentang apa yang kita samapaikan, karena kalau tidak keras mereka akan berani pada guru. ini sangat membuat saya harus berpikir lagi karena selama ini saya berkeyakinan bahwa dalam proses pendidikan tidak ada yang namanya kekerasan ataupun mengajar dengan kontak fisik, pikiran saya adalah bukan untuk menyuruh anak untuk belajar tapi bagaimana caranya anak supaya mau belajar.
Hari-hari pun berlalu permasalah ini saya serahkan pada waktu biarlah waktu yang menjawab masalah semua ini dan akhirnya permasalahan ini terjawab dengan sendirinya ketika banyak murid yang terlambat hampir setiap hari dan saya melihat banyak buku yang disimpan di meja tempat duduk mereka, akhirnya saya menanyakan kepada mereka, jawab mereka adalah mereka kesekolah sangat jauh mereka berangkat dari rumah sekitar jam 5 pagi dan samapai di sekolah jam 8 pagi mereka harus berjalan 3 jam untuk bersekolah, suatu perjungan yang sangat sulit untuk anak seusia mereka, tanpa ada alat transportasi mereka hanya berjalan kaki melewati gunung-gunung dan sungai yang apabila pada musim hujan akan banjir, hal ini juga yang menyebabkan mereka tidak mau membawa pulang buku-buku mereka karena alasan kalau dibawa pulang maka buku mereka akan rusak, dan masalah ini pun berlanjut ketika mereka setelah pulang sekolah harus membantu kedua orang tuanya di kebun sampai petang pun tiba, sehingga pada malam hari mereka sangat kecapean dan langsung istirahat tanpa belajar terlebih dahulu. Saya kira inilah jawaban yang saya dapatkan ternyata anak Timor itu tidak lemah dalam hal daya tangkap. Hanya saja mereka kurang beruntung, karena waktu mereka untuk belajar hampir tidak ada bahkan media pendukung pembelajaran seperti buku, internet bahkan lisrik untuk penerangan mereka belajar pada malam hari pun tidak ada, inilah jawaban yang saya dapatkan mengenai anak-anak di Pulau Timor demikian cerita saya di bawah Batu Kauniki.




STOP KEKERASAN PADA ANAK….!!!!!!
 BIARKAN MEREKA MENURUNKAN KASIH SAYANG
PADA GENERASI YANG AKAN DATANG.

Tidak ada komentar: